Friday, December 9, 2011

"Dia Yang Maha Dekat", Di Manakah Kita?




Kau tahu sahabat, apa yang membuat kita gelisah?

“Gelisah”… Itulah kata yang tepat menurutku untuk mewakilkan

 keadaan kita ketika serpihan ketenangan hilang dalam jiwa kita.

Pernahkah engkau merefleksi dirimu dari mana awal kegelisahan

 itu datang?

Dari mana perasaan tak jelas itu menghampiri kita?

Pernahkah engkau mengarahkan sang penguasa karya kita berhenti

 sejenak untuk menelusuri keberadaannya?

Maka, segudang pertanyaan serupa dan kalimah jawapan tentunya

 tiba-tiba hinggap di pemikiran kita untuk menjawab perihal 

tersebut.


“Hanya dengan mengingat Allah, maka hati akan menjadi tenang.”

 (Al-Quran)


Wahai sahabat, tidak ada sedikit pun niat dalam diri ini untuk

 menggurui, mari kita bersama-sama duduk sebentar di sini.

 Meluangkan waktu beberapa minit untuk bersama-sama 

bermuhasabah diri.


Suatu ketika datanglah seorang perantau dari desa yang

 tersembunyi di pulau Sumatra. Ia datang ke Jakarta untuk sebuah

 mimpi. Banyak hal yang ia dapatkan, termasuk bekal ruhiyah. 

Alhamdulillah ia dipertemukan oleh Allah dengan orang-orang yang

 menegakkan panji-panjinya. Suasana seperti ini

 membuatnya betah tinggal di Jakarta. Hingga ia pun menceritakan

 segala kenikmatan ini kepada sang bidadari pertamanya, ibunda 

tercinta, yang senantiasa mendoakan anandanya di kota

 perantauan.

Hingga suatu hari, ia mengikuti sebuah pelatihan kepemimpinan 

dan manajemen diri di kota sebelah. Seperti mendapat durian 

runtuh, ia tercengang akan kematangan pribadi orang-orang di

 lingkungan pelatihan ini. Tak henti-henti kalimah-kalimah Allah

 pun terus terucap sebagai rasa syukurnya karena episode 

kehidupannya yang begitu berwarna. Di sana, ia bertemu dengan

 seorang sahabat yang seakan-akan cerminan dari pribadinya.

 Bezanya, sang sahabat lebih dewasa dan setiap perkataan yang

 dilontarkannya serupa nasihat. Nasihat yang begitu menginspirasi,

 seolah-olah jika ia berkata, maka beban masalah pun serasa pergi

 jauh. Acara pelatihan selesai dan perpisahan itu pun terjadi.

Beberapa bulan kemudian, si pemuda mengalami kesulitan.

 Masalah ini seakan-akan menjerat lehernya hingga ia sesak untuk

 bernafas. Anehnya, semenjak acara tersebut, si pemuda seperti 

mengalami futur dalam hal ruhiyah. Dan pertama kali yang ia ingat

 adalah sang sahabat yang pernah menjadi teman makan dan minum

 selama pelatihan. Ia ingin bertemu untuk menceritakan segala hal

 dan tentunya meminta nasihat kepadanya. Akhirnya ia kembali

 menginjakkan kaki di kota sebelah. Sesampai di sana, ia tak

 menemukan sahabat yang diagungkannya, walau alamat yang 

tercatat lengkap, dan rumah pun ditemukan. Namun, tetap saja ia 

tak menemukan sang sahabat. Pemuda pun terus mencari, hingga 

hasil nihil yang didapat.


Sahabat, ke manakah sekarang Allah di hati pemuda tersebut?

Mengapa harus manusia yang dijadikan sandaran pertama untuk

 mengadu?

Mengapa tidak kita ceritakan lembaran pahit ini ke Dia, Yang

 Maha Mendengar?

Pantaskah kita melakukannya?

Setiap desah nafas ini, setiap aliran darah ini, setiap detakan

jantung ini, dan setiap denyutan nadi ini, hanya milik Allah.

Ia bisa berhenti sekejap atau selamanya jika Allah menginginkan.

Tapi, semua itu tidak terjadi, sahabat. Kita akan terus memiliki 

kenikmatan tersebut hingga Allah memanggil kita ke sisiNya.


Mengapa?

Kerana rasa kecintaan Allah yang begitu besar kepada para

 hambanya. Kepada kita.

Kecukupan selalu Allah berikan kepada hamba – hambanya.

Kecukupan. Kerana Allah memberikan apa yang kita perlukan,

 bukan yang kita inginkan. Dengan tujuan, kita lebih berharga di 

hadapanNya. Manusia yang selalu bersahaja, dan tidak berlebihan 

dalam mengikuti hawa nafsu.


Allah Subhanahu Wata’ala.

Dia begitu dekat, sahabat.

Begitu dekat.

Dia berada lebih dekat dari urat di tenggorokan, jauh lebih dekat

 dari aliran darah yang kita rasakan.

Namun, mengapa kita cenderung melakukan aksi yang kontradiktif,

 sahabat?

Menjauh sendiri tanpa alasan yang jelas.

Merasa gelisah seolah-olah Allah begitu jauh.


Masih ingatkah engkau dengan hadits ini, sahabat:

“Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu kepadaKu, Aku

 bersamanya (dengan ilmu dan rahmat) bila dia ingat Aku. Jika dia

 mengingatKu dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika

 dia menyebut namaKu dalam suatu perkumpulan, Aku 

menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Bila

 dia mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya

 sehasta. Jika dia mendekat kepadaKu sehasta, Aku mendekat

 kepadanya sedepa. Jika dia datang kepadaKu dengan berjalan 

(biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat”.


Maka, siapakah yang lebih berhak untuk mendapatkan perhatian 

kita?

Apa tujuan hidupmu di dunia, sahabat?

Jadikanlah Allah sebagai satu-satunya tujuan hidupmu, satu-

satunya Dzat yang berhak atas perhatianmu, cintamu, dan

 senyumanmu.

Begitu Besarnya Allah, Dia memberikan kita kelonggaran untuk 

memberi semua hakNya atas perhatian, cinta, dan senyuman kita

 kepada orang – orang terdekat, kepada mereka yang dihalalkan

 untuk kita.

Ingatlah sahabat, dunia ini hanya persimpangan. Dan setiap

 persimpangan hanya berlalu sebentar. Dunia hanya sebagai tempat

 persinggahan kita sementara sebelum menapaki kehidupan abadi, 

akhirat.

“Jagalah Allah, niscaya Allah kan menjagamu.”

(Sebening wasiat Rasulullah SAW. kepada Ibnu Abbas)

Istimewakanlah Allah, maka Allah akan mengistimewakanmu. 

Kenalilah Allah ketika senang, maka Allah akan mengenalimu di 

kala susah..

Dunia, hanya sesuatu yang fana. Akhirat kelaklah tempat kembali

 yang nyata..

Kerana engkau begitu berharga, sahabat. Dan sesuatu yang

 berharga hanya berhak mengalihkan perhatianNya kepada Dzat 

yang Paling Berharga. Karena kemuliaan itu hanya untuk orang –

 orang yang berharga.




No comments: